HADIS-HADIS TENTANG SEBURUK-BURUK PEMIMPIN SELAMA MENEGAKKAN SALAT
(Kajian Ma‘ani al-Hadis)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar
Sarjana Theology Islam
Oleh :
NIM.
JURUSAN TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2004
ABSTRAK
Ditegakkannya salat sebagai syarat larangan untuk menentang seorang pemimpin yang paling burukpun, tentu menjadi keganjalan dan pertanyaan: mengapa hanya karena pemimpin terburuk itu menegakkan salat, ia tidak boleh ditentang oleh rakyatnya? Namun itulah yang dinyatakan Nabi Muhammad SAW. dalam sabdanya sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat tentang sikap terhadap seburuk-buruk pemimpin tersebut. Padahal seburuk-buruk pemimpin yang dicirikan dalam hadis itu sebagai pemimpin yang dibenci dan dilaknat oleh rakyatnya serta begitu pula sebaliknya dengan sikapnya terhadap rakyat yang dipimpinnya, diragukan kemampuannya –jika dilihat dari kondisinya- dalam menunaikan amanatnya menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya.
Hadis ini tentunya tidak bisa ditelan mentah-mentah (tekstual), tetapi harus diinterpretasi secara seksama untuk mengetahui, mengapa Nabi mensyaratkan adanya penegakan salat untuk larangan menentang kepada seburuk-buruk pemimpin, sehingga diperoleh suatu pemahaman yang tepat dan akhirnya menghasilkan pengamalan yang tepat pula.
Proses pemahaman hadis tersebut diawali dengan penelusuran hadis-hadis yang setema melalui metode penelusuran tema hadis atau lafaz hadis, yaitu kata awal hadis melalui kitab-kitab yang membantu penelusuran hadis, yaitu Mifta>h Kunu>z al-Sunnah, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfa>z} al-H}adi>s| al-Nabawi> dibantu dengan CD Program Mausu>‘ah al-H}adi>>s| al-Syari>f, yang menghasilkan bahwa hadis tentang seburuk-buruk pemimpin selama menegakkan salat terdapat dalam kitab S}ah}i>h} Muslim, Musnad Ah}mad bin H}anbal dan Sunan al-Da>rimi>.
Sebelum metode ma‘a>ni> al-H}adi>>s| diterapkan, hadis tersebut harus diteliti keotentikannya. Analisis keotentikan hadis dari segi sanad dan matan, menghasilkan kesimpulan bahwa hadis ini sahih. Penelitian selanjutnya adalah analisis matan meliputi kajian linguistik berupa kajian kata-kata kunci dalam matan, dan kajian historis kepemimpinan Nabi supaya dapat digeneralisasikan kandungan hadisnya. Analisis generalisasi menghasilkan makna universal bahwa ketaatan kepada penguasa atau pemimpin diharuskan selama mereka tidak menyimpang dari ajaran Islam, yaitu mereka masih menegakkan keadilan dalam masyarakat.
Makna universal dari hadis tersebut kemudian dikontekstualisasikan kepada realitas kekinian, yaitu pada realitas politik Islam dan Indonesia kekinian. Upaya kontekstualisasi ini menunjukkan bahwa kemunduran dan kekacauan yang terjadi di negara Islam termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah sebagai bukti ketidakseriusan pemerintah dan para pejabat negara dalam menjalankan amanat rakyat yang merupakan kewajiban mereka. Keadilan dalam masyarakat belum direalisasikan dengan baik. Jika hukum dan keadilan tegakkan maka tentunya akan tercipta kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sejahtera, adil dan makmur, tidak ada pertentangan dari rakyat.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
NOTA DINAS PEMBIMBING ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
HALAMAN MOTTO iv
HALAMAN PERSEMBAHAN v
PEDOMAN TRANSLITERASI vi
ABSTRAK xi
KATA PENGANTAR xii
DAFTAR ISI xiv
BAB I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 9
Tujuan dan Kegunaan Penelitian 10
Telaah Pustaka 10
Metode Penelitian 16
Sistematika Pembahasan 19
BAB II KONSEP KEPEMIMPINAN DAN SALAT 21
A. Konsep Kepemimpinan 21
B. Konsep Salat. 31
BAB III INTERPRETASI HADIS TENTANG SEBURUK-BURUK PEMIMPIN SELAMA MENEGAKKAN SALAT 40
A. Redaksi Hadis-hadis tentang Seburuk-buruk Pemimpin Selama Menegakkan Salat 40
B. Kajian Otentisitas Hadis 46
1. Analisis Sanad 57
2. Analisis Matan 48
C. Pemaknaan Hadis 52
1. Kajian Konfirmatif 52
2. Kajian Tematik Komprehensif 54
3. Kajian Linguistik 57
4. Kajian Realitas Historis 61
5. Generalisasi Makna Hadis 66
BAB IV KONTEKSTUALISASI HADIS TENTANG SEBURUK-BURUK PEMIMPIN SELAMA MENEGAKKAN SALAT TERHADAP REALITAS KEKINIAN 68
A. Kepemimpinan dalam Politik Islam 68
B. Fenomena Kepemimpinan dalam Dunia Politik Indonesia Kekinian 72
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan 81
B. Saran-saran 82
C. Kata Penutup 82
DAFTAR PUSTAKA 83
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar